Ketahui pengertian penyakit lupus nefritis berikut ini.

Nefritis interstisial merupakan suatu infeksi yang menyebabkan peradangan dan terjadi pembengkakan pada ruang sekitar nefron. Nefron tersebut merupakan sekelompok jaringan dalam ginjal yang berbentuk tabung melingkar kecil dengan bola di salah satu ujungnya. Nefron sendiri memiliki fungsi sebagai penyaring limbah sekaligus penyalur urin ke saluran uretra yang menghubungkan ginjal ke kandung kemih. Dan perlu diketahui juga bahwasanya setiap ginjal memiliki 1 juta nefron. Nefritis interstisial ternyata dapat mempengaruhi pasien pada semua usia, tetapi lebih sering ditemukan pada orang tua.

Namun, sebanyak 10-15 persen kasus gagal ginjal tersebut terjadi karena disebabkan oleh penyakit lupus nefritis. Ketika infeksi sudah menyebabkan nefritis, penderita akan mengalami demam, menggigil, nyeri punggung, dan gangguan kencing (rasa terbakar, frekuensi terganggu, anyang-anyangan, dan kencing berdarah). Hindari beberapa faktor yang dapat menyebabkan penyakit tersebut terjadi, sehingga dapat menjadi pencegahan untuk beberapa penyakit kronis lainnya. Nefritis interstisial merupakan suatu kondisi yang memiliki beberapa gejala tertentu. Ruam dan demam merupakan salah satu gejala dari timbulnya penyakit tersebut. Tekanan darah mungkin menjadi tinggi dan kadang-kadang sulit untuk dikendalikan. Selain itu, masih terdapat juga beberapa ciri dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda memiliki keluhan yang sama, tolong konsultasikan kepada dokter. Sering kali, penderita tersebut tidak merasakan gejala apapun sampai fungsi ginjal sudah dapat dikatakan terganggu. Jika sudah mencapai tahap ini, gejala gagal ginjal seperti muntah, mual, gatal-gatal, dan kelemahan fisik yang terjadi. serta pembengkakan pada kaki akan terjadi.[1]

“dilansir dari laman Alodokter” Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, lupus nefritis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh atau sistem imun menyerang sel-sel ginjal yang sehat, hingga akhirnya ginjal tidak berfungsi dengan baik. Pada kondisi normal, sistem imun tersebut ternyata hanya akan menyerang kuman yang masuk ke dalam tubuh. Namun pada penderita penyakit lupus nefritis, sistem imun akan mengalami kelainan bahkan justru dapat menyerang sel-sel tubuh sendiri, termasuk pada sel-sel ginjal. Kelainan sistem imun tersebut dikenal dengan autoimun. Sampai sekarang, penyebab terjadinya autoimun pada seseorang belum diketahui dengan pasti. Namun terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang lebih mudah mengalami autoimun tersebut, sepertihalnya seseorang yang berjenis kelamin perempuan dan berusia diantara 15-45 tahun hal tersebut termasuk rentan sekali untuk mengalami atau menderita penyakit lupus nefritis. Seseorang yang menderita lupus nefritis ternyata dapat mengalami kambuhnya gejala-gejala lupus nefritis (flare) akibat terpapar pemicu lupus. Ada beberapa jenis pemicu yang dapat menyebabkan kambuhnya gejala lupus nefritis tersebut, yaitu:

  • Paparan sinar matahari.
  • Perubahan hormon, misalnya ketika hamil atau menstruasi.
  • Infeksi, baik oleh bakteri atau virus.
  • Obat-obatan, seperti antibiotik dan obat antikejang.

Beberapa diagnosis akan dilakukan Jika diduga menderita penyakit lupus nefritis, dokter akan meminta penderita untuk menjalani beberapa serangkaian tes seperti berikut:

  • Pemeriksaan urine 24 jam

Metode ini dilakukan untuk mengukur kemampuan ginjal dalam menyaring zat-zat sisa dalam tubuh. Pemeriksaan ini akan menunjukkan seberapa banyak kandungan protein yang muncul di urine selama 24 jam.

  • Pemeriksaan urine

Pemeriksaan urine bertujuan untuk menilai fungsi ginjal. Pemeriksaan ini akan mengukur kadar protein, sel darah merah, dan sel darah putih.

  • tes darah

Tes ini akan membantu dokter dalam melihat kandungan zar-zat sisa dalam darah, contohnya kreatinin dan ureum dalam darah. Tes ini untuk menilai fungsi ginjal. Dalam kondisi normal, seharusnya zat-zat ini tidak muncul karena telah disaring oleh ginjal. Sampel darah juga akan diperiksa hitung darah lengkap dan tes antibodi ANA (antinuclear antibody).

  • Usg perut

Pemeriksaan USG perut (USG abdomen) dilakukan dengan menggunakan gelombang suara untuk menampilkan kondisi ginjal secara detail. Dari pemeriksaan ini, dokter akan bisa melihat adanya kelainan pada bentuk dan ukuran ginjal.

  • Biopsi ginjal

Dokter akan mengambil sampel jaringan ginjal, lalu memeriksanya dengan mikroskop. Prosedur ini bertujuan untuk memeriksa adanya kerusakan jaringan ginjal dan mengetahui penyebabnya.

Sumber: Klinikhijau.com



[1] Sumber referensi Hellosehat.com

Uncategorized

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*